Imt Ciputat


Program: Reading in Social Sciences (RISOS) di Yayasan Paramadina
Januari 18, 2009, 7:55 pm
Diarsipkan di bawah: NEw Entry | Tag: , , , ,
Dariku, Muhamad Muiz…
salam,
Teman-teman sekalian. Mengawali tahun 2009, Forum Muda Paramadina akan menggelar Risos (Reading in Social Sciences). Program ini dimaksudkan sebagai forum bagi sekelompok kecil pemimpin mahasiswa dan anak-anak muda (15-20 orang) untuk mengadakan seminar kecil, sambil membaca karya-karya penting dalam bidang ilmu-ilmu sosial. Forum ini diharapkan berguna untuk kita saling mengasah pikiran dan mempertajam daya analisis, dengan membaca secara kritis karya-karya di atas. Program ini akan dilaksanakan setiap bulan selama satu tahun (12 pertemuan).
Sebagai permulaan, RISOS akan dimulai pada:
Hari: Sabtu, 31 Januari 2009, pukul: 13:00-15:00 di Aula Yayasan Paramadina, Pondok Indah Plaza III Blok F 4-6, Jl. Tb. Simatupang, Jakarta Selatan.
Judul artikel: Institutional Moderation and Religious Diversity, karya Dr. Julie Chernov Hwang (Ph.D, University of Colorado at Boulder)
Jika bagi Anda tertarik, silakan konfirmasi ke alamat email saya ini, atau sms ke 085728914764 (husni). Saya akan kirim bahan untuk pertemuan pertama.
Demikain dan terimakasih.
Husni Mubarak
Latar belakang pengumuman ini (sorry, latar belakangnya di belakang)

Pada saat saya itu malam repet-repet. Benar-benar tengah hari. Ketika itu terhitung dua hari saya menginap di Kebayoran, tempate Mas Dhofir, Kang Muin de el-el.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Dikarenakan kebiasaan saya yang mungkin sudah menjadi sebuah keharusan pada setiap malamnya, saya belum tidur. Begitu jenuh pikiran ini. Diam-diam saya menyesal karena tak membawa buku barang sebijipun untuk sekedar menemani kemesraanku dengan malam.
Nah, di sinilah untungnya. Kebetulan di tempat itu bukanlah sembarang tempat menginap: rumah biasa, kosan, kontrakan atau apalah… melainkan sebuah tempat di mana berjejer dengan rapi sederatan komputer yang setiap waktunya dudah terhubung dengan jaringan internet (saya percaya kalian bisa menduga seperti apakah tempatnya. Aku harap kalian sudah nalar)
Seperti biasa, pertama kali yang saya buka setiap kali berselancar di dunia maya adalah kotak masuk email beralamat muiz_blp@yahoo.co.id. Sekedar iseng buka barangkali ada ebuah pesan yang mungkin bermanfaat ataupun sejenis undangan, pengumuman dan lain sejenisnya.
Benar saja. Ada enam buah surat yang nangkring tanpa terlebih dulu minta ijin di kotak masukku. Satu diantaranya dari seorang teman beralamat mengusik bagian benakku yang bertugas menangkap tentang semua hal-hal yang menarik.
Itulah sekelumit latar belakang saya memasukkannya di “ruang” ini meski dengan pengorbanan yang tak terbayarkan: Melek bengi.
Betapa tidak. Malam dini hari disaat semua orang pada umumnya ngleker saya merelakan untuk mengisi blog dengan tanpa kopi, teh, rokok dan semua segala sesuatu yang ruwet.
Ya wis, tak gawe ikhlas bae lah.
Dengan berat hati saya ucapkan banyak minta maaf karena tulisan saya yang mungkin kurang teratur dan acak-acakan. Pada saat saya menuliskan bagian akhir ini, waktu sudah menjelang fajar. Begitu melelahkan menahan kantuk sepanjang malam dengan tanpa kehadiran kopi atau teh dan beberapa batang rokok. Begitu menyiksa!!! aku harap kalian semua mau mengerti kondisiku.
Percayalah, ini bukan pernyataan sepihak.


AWAS BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA
Januari 17, 2009, 7:06 pm
Diarsipkan di bawah: NEw Entry | Tag: , , , , , ,

photo-muiz7

Pada Sabtu (17/01/2009) kemarin, saya mendapat kiriman sebuah essai yang begitu menarik dari salah seorang teman milist. Ada yang begitu menarik di dalamnya; sebuah taktik untuk kita terus membaca tulisan Mas Pry secara utuh.

Mungkin inilah aplikasi taktik sastra yang saya pelajari dulu bahwa judul sebuah tulisan harus memancing pembaca untuk tetap membaca….

Saya kutip essai dari Mas Pry yang menarik tersebut di sini. Semoga bermanfaat.


Berenang Kita di Google yang Dangkal

Sebuah Curhat Otokritik

“BERANI TARUHAN!! KAMU NGGAK BAKAL KUAT

BACA TULISAN INI SAMPAI HABIS SEKARANG!!!! ” (lagi…)



Seringai Bangga
Januari 17, 2009, 5:56 pm
Diarsipkan di bawah: NEw Entry | Tag:

oleh:
MS Rizqi

Di masa lampau, masyarakat Jawa pada umumnya tak banyak bicara. Tak terlalu berhasrat untuk berkuasa. Tak perlu adanya konfrontasi untuk mendapatkan pengaruh kekuasaan ke seluruh dunia. Cukup dengan mengganjal perut dengan segenggam makanan akan membuat tenang mereka.

Namun, ternyata mereka juga bisa marah jika ketenteraman mereka diusik. Hal ini terjadi ketika ada pendatang baru yang berani merusak kelestarian lingkungan Jawa, meski dengan propaganda menarik. Seperti yang dilakukan oleh pendatang dari Rum yang membabat sebagian hutan untuk perkampungan. Dia mempromosikan modernisasi, mempropagandakan pembangunan. Tapi Semar, leluhur Jawa tak mau lingkungannya diusik.

Bagi Semar, tak perlu ada pembaharuan. Ia tidak butuh modernisasi. Yang ia butuhkan kenyamanan, ketenteraman dan kesejahteraan. Untuk apa pembangunan digalakkan kalau ia merusak kelestarian alam. Mengikis keharmonisan lingkungan.

“Hai pendatang baru, tak tahu diri kalian.” Seru Semar tak rela tanahnya diperlakukan semena-mena oleh orang lain. Ia merasa bahwa tanah kekuasaannya tak berhak diapa-apakan kecuali olehnya. Apalagi membabat hutan yang tak lain adalah tempat tinggalnya.

Tak ada seorangpun yang berani menebang satu batang pohon pun di tanah kekuasaanya. Tapi manusia yang satu ini, tanpa rasa takut dan penghormatan pada leluhur menebang satu demi satu tanaman hutan. Dengan dalih ingin memajukan tanah Jawa dengan pembangunan.

Si pembabat hutan itu menghampiri Semar, ”inilah salah satu alasan kami mendirikan perkampungan di sini. Menciptakan modernitas. Menghilangkan pikiran-pikiran picik sepertimu, yang tak tahu arus.”

Semar semakin tak terima. Kata-kata yang keluar darinya bagai goresan pedang di hati melalui telinganya. ”Kurang ajar, kau menantangku rupanya ya!!!” Semar melayangkan tinjunya ke muka pembabat, tapi dengan sigap tangan Semar dielakkannya. Tangan kirinya menyusul tangan kananya yang gagal mengenai muka si sok pintar itu, tapi kembali dimuntahkannya.

”Tak perlu kau emosi tuan. Kedatangan saya ke sini dengan maksud baik.”

Semar seperti semakin dihina dengan perkataan itu. Ia melayangkan tubuh sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya ke arah musuh, tapi berulang kali ditangkisnya. Tak satupun tendangannya mengenai sasaran.

Putus asa, Semar pergi meninggalkan si pembabat hutan itu. Perasaan dongkol menemani pelariannya. Mencari pembelaan. Ia berjalan ke arah Wonosari, meminta bantuan Nyi Gahung Mlati, pemimpin roh penunggu hutan belantara.

”Nyi, selazimnya Nyai tahu tentang peristiwa yang menimpa hamba. Adakah jalan keluarnya?” Semar membungkukkan badan dengan mengangkat tangan yang dirapatkannya. Lama pertanyaannya terucap, tapi tak ada jawaban yang terlontar dari sosok perempuan di hadapannya.
***

Di abad modern, abad XXI, Semar masih belum bisa menerima kehadiran orang asing yang ingin merusak kelestarian alam. Kali ini ia tidak turun langsung untuk menjaga kelestarian keberadaan Jawa. Melalui pengikutnya, ia mendogmakan tentang pelestarian kemurnian lokal. Ia tak ingin ada kontaminasi yang dulu menimpanya semakin merajalele. Baginya lebih baik memakan ubi dan singkong daripada makan daging yang dihasilkan dari peternakan yang menebang hijau tetumbuhan hutan.

Ngadyo berkata pada orang yang berjenggot, bergaun gamis keputih-putihan. Peci putih menempel di kepalanya. ”Apa Tuhan hanya menerima kalian, sedangkan aku memakai batik dan blangkon?”

”Masya Allah.. Astaghfirullah.. Tuhan tidak melihat fisik kita. Tuhan tidak menilai dari cara berpakaian kita. Tapi ini yang dinilai-Nya..” jari telunjuknya menuding dadanya. Kepalanya digeleng-gelengkan. Dari wajahnya tersemburatkan senyum. Senyum yang sulit diartikan.

Ngadyo tersenyum bangga mendengar jawaban dari Salim. Tapi tak ada tanda keanehan dari diri Salim. Mungkin ia tidak tahu maksud pertanyaan Ngadyo. Selanjutnya tak ada lagi bincang dari keduanya. Kecuali ucapan amien ketika imam selesai membacakan surat al-fatihah.

”Maaf, pak Ngadyo, boleh kita melanjutkan perbincangan tadi?” Ngadyo belum tahu maksud permintaan Salim. Tak terlintas di benaknya bahwa ternyata Salim belum puas dengan pertanyaan Ngadyo.

Polos Ngadyo berkata, ”perbincangan yang mana ya?”

”Ohh, maaf. Saya hanya ingin menanggapi pertanyaan bapak mengenai cara berpakaian…”

Belum selesai bicara, Ngadyo langsung memotongnya karena pikirannya baru bisa mengena maksudnya, ”Ohh, iya maaf, maaf. Saya kira perbincangan yang mana!” Mungkin karena banyaknya mengobral mulut, sehingga Ngadyo lupa dengan perbincangan dengan Salim.

”Mungkin pak Ngadyo beranggapan bahwa hanya ada sedikit makna di balik cara kita berpakaian, asal menjaga kesopanan dan kepantasan. Saya paham maksud bapak, dan orang-orang di sekitar bapak. Sudah banyak kata-kata seperti itu berhembus ke telinga saya dan kawan-kawan di sekitar saya.”

Ngadyo menyimak betul setiap kata yang keluar dari Salim, agar setiap saat ia bisa mementahkan ucapan-ucapannya. ”Pak Ngadyo, apa bapak tidak merasakan manfaat berpakaian, kemudian model pakaian yang kita kenakan, serta bahan dari pakaian yang kita pakai?” Ngadyo hanya diam mendengarnya, ia tahu itu bukan pertanyaan yang butuh jawaban. ”Semua memiliki efek terhadap diri kita pak.”

”Kalau anda tahu, pakaian yang kita kenakan,” Salim menunjukkan pakaian yang dikenakan, ”dapat menghindarkan diri kita dari perbuatan tercela. Misal saja, saya yang mengenakan pakaian gamis seperti ini, tidak mungkin akan pergi ke bioskop, hampir mustahil untuk berbuat jail, dan akan berpikir untuk melakukan hal-hal yang ganjil. Sebaliknya, ketika saya berpakaian seperti orang-orang yang katanya modern yang biasa mereka dikenakan, saya bebas melakukan apasaja. Saya tak perlu berpikir panjang untuk berbuat jahat. Dengan kata lain, pakaian selain menjadi identitas diri, juga bisa menjaga sikap kita.”

Tamat Salim berucap, ia dikejutkan oleh lelaki berparas cakap, tapi hampir tak bersikap. Lelaki tadi melintas di antara Salim dan Ngadyo bicara. Setelah melewati keduanya, lelaki itu menunjuk wajah Ngadyo dan Salim. Ia berbicara lantang, bahkan bisa dikatakan berteriak. Yang lebih mengherankan, lelaki itu mengenakan pakaian yang tidak seperti pakaian. Berwarna sama dengan warna kulitnya. Bahannya pun mungkin sama. Hampir-hampir Ngadyo meneriakkannya orang gila, yang bugil tepatnya. Tapi ia sadar kalau ia bugil, tentunya ada benjolan di badan.

Segera ia menenangkan orang itu, dan menyentuh tangannya. Ngadyo kaget karena ternyata lelaki itu ternyata berpakaian.

”Apa maksud anda menarik-narik baju saya. Heran ya? Baru lihat ya? Mau ya? Ini pakaian impor yang tidak mungkin ada yang menjualnya, kecuali melalui pesanan. Jika semua orang mengenakan pakaian ini, pasti tidak ada lagi pertentangan di antara kalian!”
Salim dan Ngadyo semakin penasaran. Mereka tak tahu maksud ucapannya. Malah yang ada hanya keluh kesah, semakin menambah rasa heran.

Seakan tahu isi hati, lelaki tadi berkata teratur rapi, ”kalian tak usah susah payah, tak perlu mengeluh, heran, penasaran dan segal macam. Aku pasti memberitahu kalian. Dengar,” mukanya dimajukan ke hadapan Salim dan Ngadyo, ”bukan zamannya lgi mendebatkan pakaian, apalagi pakaian-pakaian kuno seperti milik kalian. Sekarang zamannya berpakaian seperti yang aku kenakan.”

”Maaf tuan, kalau boleh tahu, pakaian anda itu sepertinya dari kulit?”

”Wauw!!! Baru ada orang yang bisa menebak dengan tepat pakaianku ini. Ya, betul! Aku memakai pakaian dari kulit, kulit yang paling mahal di dunia. Kalian tahu kulit apa? Kulit manusia!”

Respon keduanya berlawanan. Salim merasa sangat kejutkan dengan ucapan si lelaki, sedangkan Ngadyo biaso-biaso sajo. ”Telanjang dong!” cetus Ngadyo.

”Masya Allah! Anda jujur dengan ucapan anda?” Salim menambahkan.

”Kalau kalian ada yang minat, bisa saya bawakan bahannya, bahkan kalau mau bisa saya bawakan mentahnya supaya kalian pecaya kalau ini adalah pakaian kulit manusia. Lihat,” lelaki itu menunjukkan lengan bajunya, ”yang ini terbuat dari kulit perempuan muda, agak lembut dari bagian yang lain. Meski sebagian besar yang saya kenakan ini dari kulit bocah balita, tapi untuk mendapatkan variasi yang menarik aku mengambil beberapa bagian pula dari kulit berusia beda.”

”Dari mana kau dapatkan begitu banyak kulit-kulit yang kau jadikan bahan pakaian itu?” Mata Salim melotot, meski Ngadyo menganggapnya berlebihan.

”Saya punya kawan seorang tentara. Dia bukan orang Indonesia, tapi orang Israel yang bertugas di Palestina. Aku mengenalnya di messenger. Beberapa minggu yang lalu, ia menawarkan saya bahan pakaian yang bagus. Katanya bahan pakaian itu tidak ada yang menyamai halus, melebihi kain sutera India. Ia menawarkan sejuta per meternya. Ketika ia bilang kalau bahan itu kulit manusia, awalnya saya ragu juga. Tapi apa salahnya mencobanya. Saya pun memesan sepuluh meter saja, tujuh meter kulit manusia dewasa, dan sisanya balita. Ia pun mengirim seminggu setelahnya. Tanpa menunggu lama, saya pun segera menyuruh istri untuk menjahitnya. Inilah hasilnya…” Lelaki tu menyeringai bangga mengenakan pakaian berbahan kulit manusia.
s40310021



Di Balik Makna Kentut
Januari 17, 2009, 9:55 am
Diarsipkan di bawah: NEw Entry

Basir heran menyaksikan keadaan kampung halamannya. Sepuluh tahun lebih ia tinggalkan merantau ke kota. Dan sekembalinya dari kota, situasinya sudah berubah. Pepohonan di kebun-kebun lahan kosong tak lagi rindang, malah sekarang berdiri bangunan besar, berbentuk balok. ”Pabrik peleburan timah, mas!” jawab pemuda yang ditanyanya.
Yang membuatnya lebih mengherankan lagi, hampir tak ada seorang pun yang mengenalnya, kecuali pak Kasan yang sering dihinanya ketika masih tinggal di kampung. ”Basir, pie kabarmu? Lama sekali gak menengok rumahmu. Apa kau tidak rindu sama kakek dan nenekmu?”
Intonasinya tidak mencirikan rasa dendam, bahkan penuh kearifan. ”Alhamdulillah pak, kulo sae-sae mawon.Sampean pripun kabare?” Basir menjawab sekenanya dengan bahasa ibu yang masih diingatnya. Tangannya menjabat pak Kasan yang kekar, maklum tangan petani. ”Sae.Apa kamu tidak rindu keluargamu?” Tangan yang biasa digunakannya mencangkul ditepukkan di pundak Basir.
”Itulah alasan saya pulang, rasa rinduku mengalahkan kepentingan pekerjaanku sehingga terpaksa aku tinggalkan.” Diplomatis. Layaknya seorang birokratis. ”Maaf pak, saya harus menemui kakek-nenek saya dulu…” refleks bapak tua itu mempersilahkannya.
*
Rumah tempatnya dibesarkan masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah kecuali cat rumah yang sudah kucel. Mengingatkannya ia ketika mengecatnya bareng kakeknya. Kakeknya tak berhenti bercerita mendongeng sembari mengecat. Dibuka dengan cerita tentang pasangan suami-istri yang menjual anak-anaknya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Persetubuhannya hanya dijadikan alat untuk melahirkan anak yang akan dijualnya.
Setelah itu dilanjut dengan kisah seorang anak yang hidup sebatang kara, yang hidupnya dihabiskan di jalanan dengan mengecrik tutup-tutup botol minuman bersoda, menodongkan tangan di kaca-kaca mobil. Dan setelah tumbuh dewasa ia menjadi bupati, yang dengannya ia mengetuk jendela-jendela budaya untuk dijualnya, dan hidup di sana.
Basir juga masih ingat betul bagaimana kakeknya berkelakar seputar preman-preman perempatan jalan samping terminal. Katanya, preman-preman itu hanya pembual saja. Mereka sering merompak para pejalan kaki, atau siapa saja yang kebetulan sial karena ada operasi. ”Kamu tahu tidak untuk apa mereka merampok?” Tanya kakeknya.
”Untuk makan kan?” Polos Basir.
”Pintar! Cucu kakek memang pintar. Tapi kamu tahu siapa yang memakan uang hasil palakannya?!” Ia tak memberi kesempatan pada cucunya untuk berpikir dan kemudian menjawab, tapi ia sendiri yang menjawabnya. ”Untuk dimakan si korbannya!”
Ya, mereka bukan memalak sebenarnya. Tapi mereka mengajarkan pada korbannya untuk lebih memperhatikan keadaan si sekitarnya, mendidik untuk lebih peduli dengan para pengangguran. Tak jarang mereka meminta saran pada para korbannya tentang masa depan mereka. Sehingga datang seseorang yang jadi korbannya membukakan mereka lapangan pekerjaan. Dan sekarang preman-preman itu menjadi pengatur jalan berseragam.
Memori masa silam yang indah. Sekarang itu tinggal kenangan. Warna dindingnya tak sekilau dulu. Sekarang kusam. Sekusam pak Kasan yang setiap hari berjemur di tengah sawah dan hanya ditemani cangkul dan segelas teh.
Rasa herannya belum berhenti. Ia kembali diherankan oleh kakek-neneknya. Fisik mereka telah jauh berubah. Mungkin lima puluh persen berat badannya turun dibanding sepuluhan tahun silam. Tak kuasa untuk menitikkan airmata, airmata yang baru keluar dari matanya selama lebih dari sepuluh tahun. Airmata yang terakhir dikeluarkannya ketika ia meninggalkan mereka. Dan airmata itu ingin menyaksikan pertemuan kembali Basir dengan kakek dan neneknya. Begitupun dengan keduanya.
Tak mampu mereka mengeluarkan kata-kata. Bagi mereka pertemuan ini terlalu berharga untuk berbicara. Hanya ketukan sendu dan isakan yang mengiringi. Tangis, tangis, tangis, tangis, dan tangis. Lalu tanya.
”Kamu sehat-sehat saja, nak? Kami selalu menunggu kepulanganmu”
”Terimakasih nek. Tapi, apa yang terjadi sama nenek dan kakek?” Mereka buru-buru mengusap airmata. Tak ingin memperlihatkan kesedihan. Dan semua berganti dengan senyum. Senyum yang sepuluh tahun lebih tertidur.
Sementara Basir bernostalgia dengan kakeknya, nenek membuatkannya wedang teh. Khas kampungnya, malah mungkin khas daerahnya. Dalam perbicancangannya, Basir berhasil memancing kenangan dari kakeknya. Seakan ia berada pada masa sepuluh tahun silam. Kelakar dan cerita tentang sejarah masa silam maupun sekedar mendongeng.
Dhudd…. suara kentut khas kakeknya keluar. Kebiasaan yang sudah dikenal sejak ia dibesarkan dulu. ”Aduhh,, sayang sekali. Lupa kakek nggak bawa plastik.” Wajah penyesalan begitu kental tergambar.
”Untuk apa, kek?” Heran Basir. Heran tak henti-hentinya mewarnai kepulangannya di kampung halamannya.
”Untuk menyimpan kentut kakek!” Sontak Basir terbahak-bahak. Ternyata kehangatan keluarganya masih melekat. Canda tawa yang hilang selama dalam perantauan, ia ditemukan kembali di kampung halaman.
Kakeknya hanya tersenyum sipu. ”Kakek bisa saja.”
Bunyi langkah kaki yang mengiringi nenek masih dihafalnya. Kedua tangannya menodongkan nampan yang berisi tiga gelas wedang teh hangat, dan sepiring boled rebus. Yang ini pun hilang dalam sepuluh tahun perantauannya. Dan di sini ia menemukan kembali masa lalu yang bahagia.
”Disambi yah, di kota kan nggak ada boled !” Tawar nenek pada cucu tercintanya.
“Wahh, nenek selalu tahu selera saya. Terimakasih nek.”
Neneknya menatapnya sayang. Bagai seorang yang sedang memandang kekasihnya yang lama hilang, dan kini kembali. Sesekali Basir bertabrakan pandang dengannya. Mengingatkannya wajah Azizah, kekasihnya, ketika bertatapan dengannya.
”Kakek dan nenek belum menjawab pertanyaan saya tadi. Kenapa tubuh kalian berubah sama sekali?”
Ada ketakutan di wajah keduanya. Seakan tidak ingin cucunya tahu. Dan cucunya tahu kalau ada sesuatu yang disembunyikan dari kedua. Dalam hatinya bergeming kalau keduanya habis sakit dan Basir tak dikabarinya. ”Pasti kalian habis sakit ya? Kenapa tidak bilang waktu sakit, sehingga Basir pulang menjenguk kalian?”
Bulan sabit kembali menerangi rumah mereka. Senyum-senyum lebar terhampar lagi. ”Tidak, kami tak apa-apa. Kami sehat saja.” Jawab nenek sembari menelan boled-nya.
”Syukurlah kalau betul begitu. Tapi kenapa tubuh kakek dan nenek kok berubah? Tak sesegar dulu ketika aku tinggalkan?”
”Ya wajar saja, usia kami sudah tidak muda lagi, tong!” Kakek mempertahankan bulan sabit di bibirnya. Basir mengambil sepotong boled untuk dimakannya. Sumringah merekah di wajahnya. Ia baru saja merasakan kenikmatan yang telah lama hilang, dan kini ia rasakan kembali.
Kakeknya beranjak dari perkumpulan mereka. Setelah tak dilihatnya lagi, Basir hanya mendengar suaru kentut beberapa kali, yang diselingi dengan ungkapan kelegaan dari sang kakek. Selanjutnya hanya kerosek plastik yang didengarnya, dan kakeknya kembali ke perkumpulan mereka. Melanjutkan nostalgia lama, yang mungkin tak pernah terpikir di benak mereka, terutama kakek dan nenek.
”Ayo makan yang banyak, setelah itu kau istirahat. Kamarmu sudah nenek bereskan.”
Puas dengan pelampiasan rindunya, ketiganya beranjak ke kamar masing-masing. Basir kembali diherankan. Dalam rebahnya, ia hanya mendengar suara dhad-dhud-bess dari arah kamar kakek-neneknya. Suara kentut, kemudian desahan kelegaan/kepuasan, dan kerosek plastik. Tapi, itu tak ditanggapinya serius. Yang ia tahu bahwa setelah merasakan heran yang kesekian kalinya itu, ia sudah melewati hari dan memasuki hari yang lain. Seperti biasa setiap subuh ia selalu dibangunkan neneknya untuk berjamaah. Tapi sering tidak bangun daripada bangunnya.
Wedang teh akan menemani duduk santai mereka di depan televisi. Atau di samping radio. Dan pagi itu, ia menyaksikan lagi boled yang tersaji di atas piring yang sama seperti semalam. “Ayo tong, sarapan dulu. Maklum seadanya.” Basir hanya berkerut dahi. Ia mulai merasakan sesuatu yang tidak beres dengan kakek-neneknya. Apalagi ketika Basir melihat gelembung plastik-plastik bertebaran di lantai kamar kakek-neneknya.
Basir menanyakan menu sarapan paginya. Tapi tak ada jawab yang keluar. Hanya diam sipu di wajah keduanya. Tapi hal itu tak dibiarkan kakeknya begitu lama, dan ia segera membuka omongannya.
”Inilah makanan kami sehari-hari. Kami tak mampu membeli nasi, dan inilah makanan pokok kami sekaligus pekerjaan kami”
”Ya, kami sekarang pengangguran, usaha kami gulung tikar. Kami disapu krisis moneter 1998. Semua barang-barang berharga kami sudah ludes terjual. Kecuali rumah ini yang telah kami wariskan. Ini bukan lagi hak kami.”
”Satu juta satu bulan untuk biaya dua orang perkuliahan tak mencukupi, terkadang kami menambahkan untuk uang jajan mereka,” nenek menambahkan.
”Lalu darimana kalian mendapatkan uang, padahal kakek bilang sekarang kalian pengangguran?”
”Kami mengumpulkan kentut kami untuk kami jual ke kolektor. Dari sanalah kami bisa membeli boled, makanan pokok sekaligus mata pencaharian kami.”
”Kolektor?”
”Kolektor sumber energi alternatif!”



Tips Bikin Kajian IMT Ciputat Bubar? Bagi Pelaku Muga-muga diganjar GUsti Allah

untitledeinstein1

  1. Sering-sering datang terlambat kl pas ada kajian
  2. cari-cari alasan untuk tidak dateng (ada tugas, ujian, mau ke rmh sodara, cr makan) de el el. Pa maning ari laka sing ngejak or sms. Malah kadang jarenene klalen.
  3. merasa materi kajian gak menarik dan gak penting (terlalu serius/mumet, dudu selerane)
  4. ngomong dewek-dewek saat kajian tapi ora gelem ngomong neng forum
  5. ngantuk terus kadang-kadang turu temenan. (sapa kuwe?)
  6. gak pernah mau gadi pemakalah, danggepe gampang padahal yen dijajal ya makalahe ora pakrak alias mbla-mblo.
  7. lagi pas kajian njagonge neng ngemper utawi neng pojok trus dolanan hape, apen-apen otak-atik, smsan padahal ora gableg pulsa
  8. Ngerasa ga sreg karo materi, pengurus (laka sing ngguanteng = buktine pada zomlo kabyeh, kalow punya tarok pasti bocah wadon sing lagi apes)
    Ngerasa ga cocok ama teman di IMT, bascame kotor, asep rokok (umume cah wadon) trus ngomonge suasanane ora mendukung.

Sing kayak kuwe tandane bocah sing bakal dikutuk dadi watu kali Gung!!!!!

Cepet sadar lan ngutek

MMG

mahasiswa tegal kreatif lan gagah sing melu kajian