Diarsipkan di bawah: 1 | Tag: Ikatan Mahasiswa Tegal, imt ciputat, uin jakarta
Perjumpaanku denganmu
tak ubahnya sebuah pertemuan yang memabukkan
Kau adalah anugerah meski
tak jarang kau melahirkan rasa gelisah
Tuhan yang Maha Sombong
mengejawantahkan Dirinya pada sosokmu
aku tak ubahnya Musa
yang luluh melihat wajah Tuhannya
hasrat yang begitu menggebu
tak sejalan dengan kemampuanku
kebanyakan orang bertindak
atas dasar kekhawatiran
tapi aku belum juga melangkah
meski begitu dalam kekhawatiran itu
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat | Tag: balapulang wetan. ponaryo, muhamadmuiz, pahlawan, superman
Oleh Muhamad Muiz L
Negeri Balapulang dikenal sebagai negeri yang pembangunan industrialisasinya belum segencar yang dilakukan di negeri-negeri yang lain. Tanah-tanah persawahan masih terhampar di sana-sini. Suasana pedesaan yang begitu asri di tambah mayoritas penduduknya yang bermatapencaharian sebagai petani membuat negeri ini dikenal sebagai negeri agraris dimana penduduknya bisa memenuhi seluruh kebutuhan pangan hanya dengan produksi dalam negeri pada setiap tahunnya. Tidak pernah sekalipun dalam sejarahnya, negeri ini mengkspor bahan makanan dari negeri-negeri tetangga.
Kehidupan penduduknya dalam berkeluarga nyaris tidak pernah mendapat kesulitan yang berarti. Rupanya, keharmonisan di lingkungan keluarga menjadi kunci keberhasilan model pertanian keluarga dari dulu hingga kini. Tanah pertanian digarap dengan sistem tradisional di mana pengelolaan tahap-tahap bertani dari mulai pengadaan benih sampai pendistribusiannya disandarkan pada SDM-SDM dari keluarga sendiri. Setiap anggota keluarga diberi tugas sesuai kemampuan masing-masing. Dan kaum perempuan memegang peranan yang sangat vital dalam menjaga keberlangsungan produksi pertanian yang bercorak pada model keluarga tersebut.
Dari mulai ikut memilih dan menabur benih, proses penyiangan, hingga penyediaan konsumsi bagi petani lainnya perempuan selalu memegang peranannya dengan cukup baik. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kaum perempuan merupakan modal utama dalam menjaga regenerasi keturunan dan juga mendidik para anak-anak yang disiapkan untuk menjadi petani pada periode selanjutnya.
Namun suatu ketika tiba-tiba seluruh penduduk di negeri Balapulang dibuat pusing dengan semakin berkurangnya produktivitas petani perempuan. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat | Tag: cerita, cinlok, kisah nyata, tragedi situ gintung
(Berdasarkan pengalaman nyata)
Dentang waktu mengantarkanku pada liku jalan tepian kota Ciputat, menghuyung-menggoyangkan setiap lekuk lorong-lorong trotoar, manyusutkan gerak air danau Situ Gintung. Membersihkan kampus-kampus, camp-camp kaum marginal globalisasi. Mayat bergeletak mengharap uluran tangan dari tangan-tangan yang sedang menari memainkan jari jemarinya, menertawakan air darah yang sedang marah. Mengharap injakan kaki kemanusiaan. Air dan darah, yang kini tak bisa ku bedakan lagi menerjang percikan mani-mani yang sedang tercecer memekik. Tangis, tawa, duka,cita,hingga tak lagi berbeda. Tak guna lagi simpatimu wahai penguasa, karenamu kini aku telah tiada.
Denting waktu menyapa lorong-lorong trotoar kota , mengajakku berbincang di kamar kosan kumuh berhias smpah-sampah situ gintung. Tapi aku tetap melangkahkan kaki pada terjalnya puing-puing bencana. Arwah sahabat yang coba menyapa tak aku hiraukan. Aku hanya duduk terdiam di sudut mushola menatap nanar wajah-wajah penuh duka dan penuh tawa. Ku rapatkan kakiku rapat-rapat disudut mushola menghitung wajah-wajah riang yang tak pernah aku kenal, mereka bergabtian menyapaku dengan sinis. Aku rapatkan lagi kedua kaki hingga dengkulku rapat dengan dagu. Ku pejamkan mataku tapi wajah mereka tatap terlihat, malah semakin jelas dan semakin jelaas. Huyuran hujan diluar mushola tak membasahi semangat team sar dan para relawan menenmukan para korban bencana. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat | Tag: budaya lokal. kesenjangan, pesantren

Muhamad Muiz L
Suatu keadaan yang bukan saja khayalan, jika pesantren dapat bersenggama dengan budaya lokal. Biar bagaimanapun, pesantren ada karena masyarakat sekitar yang pastinya punya budaya yang telah tumbuh-kembang bersama mereka. Adanya pesantren bukanlah untuk memporakporandakan budaya yang telah melekat pada diri mereka, akantetapi untuk menjaga dan menjaga budaya yang telah ada.
Sangat ironis sekali bila antitesalah yang terjadi. Pesantren yang lahir dari rahim budaya lokal seharusnya bisa mengawininya, malah menjaga jarak, mencurigainya bahkan menolaknya dengan keras. Entah karena alasan apa, fakta membuktikan tidak sedikit pesantren yang melarang keras santrinya untuk melihat pentas budaya apalagi memelajarinya. Memang acara-acara tertentu dalam tradisi pesantren, acapkali d\iselingi hiburan-hiburan yang merupakan kreasi dari santri, akan tetapi kreasi yang ditampilkan hanyalah kabaret yang berbeda jauh dengan model drama khas masyarakat lokal. Terkadang juga dipentaskan seni musik, akan tetapi tidak beda jauh dengan kreasi drama yang disebut di atas. Seni musik yang dipentaskan tidaklah mewakili aspirasi masyarakat sekitar. Musik yang biasanya dipentaskan yaitu jenis musik gambus, japin dan sejenianya. Pokoknya yang berbau arab. (lagi…)



