Imt Ciputat


Sosiologi Ekonomi; Sebuah Pertemuan Dua Disiplin Ilmu (Dudu Pertemuan Dalam Artian Pacaran Loh)*
Desember 31, 2008, 7:33 pm
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

photo-muiz1

Oleh: Muhamad Muiz L
NIM: 107084003558

Abstrak
Apa yang tersisa dari kajian mengenai interaksi individu ketika dihubungkan dengan segala tindakan rasionalnya, jika pada kenyataanya berbagai disiplin ilmu semakin memisahkan diri dari rahim mereka: ilmu sosial. Yang notabene sebagai alat untuk membaca masyarakat dalam perkembangannya semakin terkotak-kotak ke bagian-bagian kecil dan kemudian saling memisahkan diri. Ekonomi adalah salah satunya. Akibatnya, ketajaman analisis Ekonomi, sebagai “anak kandung” dari rahim ilmu sosial, semakin kurang komprehensif. Tulisan ini mencoba memaparkan bagaimana kedua disiplin ilmu: ekonomi dan sosiologi — sebagai “anak kandung” ilmu sosial — kemudian bertemu kembali setelah sekian lama terpisah, unsur-unsur sosial sebagai bentuk cara pandang dalam memahami fenomena proses ekonomi yang ternyata di dalamnya (proses ekonomi) tidak hanya berlaku aspek-aspek ekonomi yang berdiri sendiri namun juga terdapat aspek-aspek nonekonomi (sosial) yang melatarbelakangi individu — sebagai subjek—dalam upayanya memenuhi kebutuhan. Cara pandang yang menempatkan agen ekonomi yang berdiri sendiri dan melepaskannya dari realitas sosial yang melatarbelakanginya ternyata mengalami ketumpulan dalam usahanya menganalis berbagai fenomen-fenomen yang tejadi. Sehingga dalam upayanya memahami individu secara utuh mengalami ketumpulan dalam analisanya. Tulisan ini juga adalah sebuah upaya merekonstruksi apa-apa yang telah di bahas dalam mata kuliah “Sosiologi Ekonomi” di kelas Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Secara umum juga mengacu pada Buku Daras “Sosiologi Ekonomi” yang ditulis seorang dosen UIN Jakarta, Pheni Chalid. Diawali dari pemaparan sekilas mengenai Ekonomi dan Sosiologi sebagai disiplin ilmu, pertemuan keduanya menjadi Sosiologi Ekonomi kemudian juga mencoba memahami para pelaku (individu subjek) dalam interaksinya: ekonomi dan sosial. Kemudian coba dipaparkan pula muatan-muatan yang terdapat pada Sosiologi Ekonomi.

Kata kunci: interaksi sosial, interaksi ekonomi, Sosiologi, Ekonomi, Sosiologi Ekonomi, Pelaku (subjek).

Pengantar
Secara historis perkembangan pemikiran Sosiologi Ekonomi antara lain disebabkan oleh berkembangnya paham-paham, pemikiran-pemikiran dan teori-teori tentang ekonomi yang melihat cara kerja sistem ekonomi dengan menekankan pula pada aspek-aspek non-ekonomi.

Salah satu dari paham-paham, teori-teori, pemikiran-pemikiran yang mendukung perkembangan Sosiologi Ekonomi tersebut adalah Paham Merkantilisme, yang berpandangan, bahwa kekayaan dianggap sama dengan jumlah uang yang dimiliki oleh suatu negara dan cara untuk meningkatkan kekuasaan adalah dengan meningkatkan kekayaan Negara.

Didalam kehidupan masyarakat sebagai satu system maka bidang ekonomi hanya sebagai salah satu bagian atau subsistem saja. Oleh karena itu, didalam memahami aspek kehidupan ekonomi masyarakat maka perlu dihubungkan antara factor ekonomi dengan factor lain dalam kehidupan masyarakat tersebut. Factor-faktor tersebut antara lain: faktor agama dan nilai-nilai tradisional, ikatan kekeluargaan, etnisitas, dan stratifikasi sosial.

Faktor-faktor tersebut mempunyai pengaruh yang langsung terhadap perkembangan ekonomi. Faktor agama dan nilai-nilai tradisional: ada nilai-nilai yang mendorong perkembangan ekonomi, akan tetapi ada pula nilai-nilai yang menghambat perkembangan ekonomi. Demikian pula dengan kelompok solidaritas, dalam hal ini yakni keluarga dan kelompok etnis, yang terkadang mendorong pertumbuhan dan terkadang pula menghambat pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi Dan Sosiologi Sebagai Disiplin Ilmu
Pada mulanya, pada periode dominasi pemikiran-pemikiran filosofis, kegiatan ekonomi dan perilaku sosial tidak dapat dibedakan. Keduanya merupakan sebuah kesatuan. Namun seiring peradaban manusia yang semakin maju dan kompleks dengan segala variasinya, ilmu pengetahuan semakin spesifik dan terspesialisasi, ekonomi pun mulai terpisah dari ilmu sosial lainnya.

Baik Ekonomi maupun Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang mapan. Munculnya ekonomi sebagai disiplin ilmu dapat terlihat dari fenomena ekonomi sebagai suatu gejala bagaimana cara individu atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap jasa dan barang langka yang diawali oleh proses produksi, konsumsi dan konsumsi (pertukaran).

Dengan sendirinya dalam pemenuhan kebutuhannya atau dalam melakukan tindakan ekonomi, seseorang akan berhubungan dengan institusi-institusi sosial (dapat dikatakan: berinteraksi sosial) seperti pasar, rumah sakit, keluarga dan lainnya. Smelser mendefinisikan ilmu ekonomi: “studi mengenai cara individu atau masyarakat memilih, dengan atau memakai uang, untuk menggunakan sumber daya produktif yang dapat mempunyai alternatif untuk menghasilkan berbagai komoditi dan mendistribusikannya untuk konsumsi, sekarang atau masa depan, di antara berbagai orang dan kelompok orang dalam masyarakat.

Dalam pandangan neoklasik, mereka menilai bahwa agen ekonomi (individu subjek) adalah independent dan rasional ketika mengejar kepentingan diri, sehingga dapat memaksimalkan manfaat atau keuntungan. Dalam konteks ini (ekonomi) uang dijadikan alat analisis yang dipakai untuk menjelaskan dan menganalisis individu. Dengan menggunakan uang sebagai alat analisis, hasil yang dicapai dari analisis tersebut menjadi eksak dan terukur. Meski penjelasan yang didapat masih bersifat materil saja.

Uang sebagai tolak ukur ternyata menemukan signifikansinya ketika ditempatkan pada wilayah praktek — dengan berasumsi individu sebagai independent rasional ketika mengejar kepentingan diri. Dideskripsikan dalam logika dalam berbisnis, yang dalam prakteknya selalu mengusahakan pilihan terbaik agar seseorang (pebisnis tersebut) memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Disini tolak ukur yang digunakan dalam menilai kesuksesan seseorang di mata masyarakat adalah uang.

Sedangkan sosiologi merupakan disiplin ilmu yang berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang memang sudah seharusnya demikian, benar, dan nyata.

Kelahiran sosiologi berawal dari Eropa Barat di mana terjadi proses-proses perubahan seperti pertumbuhan kapitalisme pada akhir abad ke-15; perubahan-perubahan di bidang sosial dan politik perubahan yang berkenaan dengan reformasi Martin Luther, meningkatnya individualisme; lahirnya ilmu pengetahuan modern berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, dan revolusi industri pada abad ke-18 seerta revolusi Perancis.

Meskipun sosiologi juga menempatkan manusia dan masyarakat sebagai objek material — bersama dengan ekonomi — namun ia (sosiologi) memiliki perangkat dan wilayah analisis yang berbeda dengan ilmu ekonomi. Sosiologi berusaha memberikan kategorisasi, diferensiasi, simplifikasin dan generalisasi terhadap fakta sosial yang diamati. Dengan demikian dapat disusun variabel-variabel yang dapat dioperasionalisasikan dalam analisis. Elemen-elemen observasinya berupa regularitas, orientasi sosial individu dan kelompok, struktur sosial, sanksi-sanksi, norma-norma, dan nilai-nilai.

Berbeda dengan ekonomi, variable yang dikembangkan sosiologi tidaklah eksak, pasti atau terukur. Bukan sebuah kalkulasi dari sebuah mekanisme. Karena itu, saat menghubungkan antara variable dalam sosiologi memiliki titik rawan yang berlainan tatanannya. Untuk sebuah variable terikat, jenis yang menjadi variable bebasnya tidak bisa ditentukan kemutlakannya.

Konsentrasi pandangan sosiologi begitu berbeda dengan ekonomi. Jika ekonomi memandang fenomena pola hubungan antar individu dengan mengaitkannya dengan aspek aktivitas ekokomi yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi (kalkulasi mekanis), maka sosiologi memandang interaksi ekonomi individu atau dan masyarakat dalam spectrum yang lebih luas.fokus sosiologi adalah memehami aspek-aspek sosial yang melandasi subjek dalam memilih orientasinya ketika berhubungan dengan masyarakat.

Sosiologi Ekonomi
Sosiologi Ekonomi mempelajari berbagai macam kegiatan yang sifatnya kompleks dan melibatkan produksi, disribusi, pertukaran dan konsumen barang dan jasa yang bersifat langka dalam masyarakat.

Jadi, fokus analisis untuk Sosiologi Ekonomi adalah pada kegiatan ekonomi, dan mengenai hubungan antara variable-variabel sosiologi yang terlibat dalam konteks non-ekonomis.

Pola dan sistem yang berlaku dalam mekanisme pasar — interaksi ekonomi yang dilakukan antar individu dan masyarakat — sebenarnya berawal dari hubungan yang sederhana antara individu dan masyarakat (interaksi sosial) dalamrangka mengatasi kelangkaan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, ekonomi tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial. Bahkan aktivitas ekonomi selalu melekat dalam sosialitas tempat kejadian ekonomi itu berlangsung. Begitupun berlaku yang sebaliknya.

Sebagai misal mari kita ulas sejenak pandangan sosiologi terhadap fenomena proses produksi dan proses distribusi. Proses produksi dan proses distribusi dengan berbagai analisa yang digunakan disiplin ekonomi ternyata masih mempunyai sisa untuk dipandang dari segi lain oleh disiplin ilmu lain: sosiologi.

Proses produksi dalam pandangan sosiologis ternyata memiliki peran yang cukup vital dalam rangka mempertahankan eksistensi (keberadaan) sebuah masyarakat. Proses produksi dilihat sebagai institusi ekonomi berperan untuk mengadakan kebutuhan-kebutuhan ekonomis sebuah masyarakat. Oleh karena itu, proses produksi tidak hanya dilihat dari segi ekoomis tetapi juga sosiologis yang mempunyai peran subsistem dalam sebuah struktur masyarakat.

Dalam proses distribusi atau pertukaran terlihat proses relasi antara rumah tangga produksi dan rumah tangga konsumsi. Sebenarnya bukan dalam hal distribusi barang hasil produksi saja proses ini terlihat tetapi ketika rumah tangga konsumsi menyediakan faktor-faktor produksi pun proses ini sudah terlihat yaitu distribusi faktor-faktor produksi yang meliputi: sumber daya alam, sumber daya manusia, dan modal. Dengan mencermati proses distribusi kita bisa melihat secara sosiologis bagaimana kegiatan masyarakat berkegiatan dalam bidang ekonomi. Dalam proses inilah yang merupakan relasi antara permintaan dan penawaran kita semakin melihat manusia sebagai makhluk ekonomis dan juga makhluk sosial.

Ekonomi dan Faktor-faktor Sosial
Beberapa aspek sosial yang bisa dijadikan acuan dalam melakukan analisis yang mempengaruhi perilaku ekonom oleh individu adalah agama dan nilai-nilai tradisional, ikatan kekeluargaan, dan etnisitas.

Dalam perkembangan dunia menuju modern yang semakin menjauh dari “nilai”, aspek-aspek sosial tersebut mendapat serangan yang begitu dahsyat dari para teoritisi modernis. Aspek-aspek tersebut dituding sebagai faktor yang menghambat pertumbuhan industrialisasi. Tetapi, kenyataannya serangan tersebut tidak sepenuhnya terbukti.

Beberapa penelitian tentang agama dan nilai-nilai tradisional dan budaya local memperlihatkan betapa kedua hal tersebut menjadi pendorong bagi kemunculan kapitalisme. Dalam sekte Calvinis Agama Kristen terbukti bahwa agama tersebut selalu menekankan pada para pengikutnya dengan menekankan untuk bekerja keras dan hidup hemat, dan itu merupakan bagian dari etika Sekte Calvinis tersebut. Kemudian di Jepang dan di Indonesia pun terdapat kenyataan bahwa kaum agamawanlah yang pada kenyataannya memiliki semangat berlebih dalam melakukan interaksi ekonomi. Ikatan kekeluargaan dan etnisitaspun tak terlepas dari kecaman kaum modernis tersebut. Disebutkan bahwa keduanya merupakan faktor yang juga menghambat pertumbuhan ekonomi. Namun statemen tersebut masih saja menemukan kejanggalan.

Familiisme atau sumberdaya keluarga memililki kontribusi terhadap perkembangan ekonomi seperti kelahiran kapitalisme Cina. Meskipun dalam kaca mata ekonomi, ikatan kekeluargaan juga memberikan efek negative terhadap kemajuan ekonomi. Sebab, akan menempatkan antar individunya dalam “lingkaran setan” loyalitas yang pada hokum kalkulasi rasional ekonomi.

‘Embeddedness’ Ekonomi Dan Perilaku Sosial
Inti dari pendekatan sosial terhadap transaksi ekonomi adalah tindakan-tindakan ekonomi dilihat sebagai fenomena yang melekat dan tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan aspek sosial yang melingkupinya. Dengan demikian ekonomi tidak dapat dianalisis berdiri sendiri sebagai suatu hal yuang otonom, tanpa melihat aspek lain yang mempengaruhinya. Untuk selanjutnya perspektif ini disebut sebagai teori embeddedness (kemelekatan).

Adanya kelangkaan suatu barang yang menjadi kebutuhan manusia,membuat manusia semakin berhati-hati dalam menentukan pilihan tindakan. Manusia semakin bergerak ke tindakan yang semakin efesien dan efektif dengan penuh pertimbangan rasional. Dialektika (pergulatan menemukan sintesa) perjalanan manusia dalam hubungannya dengan suatu situasi yang menuntut pertimbangan matang, merupakan proses konstruksi sosial terhadap kasus ekonomi..

Penutup
Sebuah kenyataan dihadapkan pada para pengambil kebijakan ekonomi dalam mengamati “proses” ekonomi suatu masyarakat sebelum memutuskan untuk mengambil tindakan. Satu hal yang mesti ditekankan dalam konteks ini adalah bahwa proses menuju perbaikan ekonomi tidak bisa begitu saja dipahami dengan sebuah perhitungan eksak.

Agenda untuk memasyarakatkan teknologi di kawasan pedesaan mungkin tidak sepenuhnya didasarkan pada analisa ekonomi bahwa mereka (warga desa) akan senantiasa menerimanya dengan terbuka. Di sini berlaku hukum dari nilai-nilai tradisional. Logika yang bermain dalam konteks ini adalah, bahwa ekonomi agraris merupakan tulang punggung para petani di kawasan tersebut dan mereka tidak mau berspekulasi dengan mencoba-coba. Kegagalan dalam berproduksi (bertani) bagi mereka berarti juga merupakan kegagalan berkonsumsi.

Hal ini semakin menegaskan kita pada uraian yang telah disebutkan di atas. Pertemuan antara dua disiplin ilmu: sosiologi dan ekonomi, semakin mendapatkan tempatnya di tengah perjalanan peradaban manusia yang semakin kompleks ini.

Ttd. Aku

*) Tulisan ini di susun untuk memenuhi tugas individu pada mata kuliah
“Sosiologi Ekonomi”, Desember 2008
“Sedulur” (anggota) IMT Ciputat, Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) FEIS UIN Jakarta (Beragama)

Mahasiswa Tegal Kreatif dan Menggairahkan



Desember 31, 2008, 7:11 pm
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

wahai dewa penyelamat alam
dimanakah engkau saat bumi mulai terkikis kebiadaban
saat kebenaran mulai diabaikan oleh kerakusan

wahai dewa penyelamat alam
dimanakah engkau saat kekerasan menjadi sarana kekompakan
saat keyakinan menjadi legalitas pembenaran penindasan

inikah cara penyelamatanMu atau bukti ketiadaanMu
M@M



tanpa judul
Desember 31, 2008, 7:03 pm
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

apa daya hamba ketika tuhun bertatap murung kepadaku
bagai sang bayi mengharapkan bunda
tapi bunda pergi meninggalkannya
pantas saja ketika yesus disalib Dia bilang
“eli-eli lamma sabahtani”
karena yesus bukan tuhan
melainkan mahluk yang bertuhan
M2M



kalong wewe
Desember 31, 2008, 6:54 pm
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

sendekala teng,mbokan ana kalong wewe!!!!!setidaknya itulah salah satu nasehat orang tuaku yang begitu menakutkan saat matahari mulai lelah menyinari siangku.apalagi ketika ditambah dengan penggambaran sosok kalong wewe itu yang membuatku makin hilang keberanian.
yah beginilah jadinya aku………selalu takut dengan kehawatiran meski tau kehawatiran tidak selalu terjadi.

bukan itu sebenarnya yang ingin aku tuliskan,hanya sebagai pengantar memasuki komunitas teman-teman tegal.

who is kalong wewe??????????
ting……….tentunya kita langsung ke memori kecil tepat waktu maghrib,saat kita terkurung di dalam rumah hanya karena kehawatiran kita melihat sosok berambut panjang tak berpakaian serta memiliki payudara besar yang hobinya mengajak anak kecil yang berada di luar rumah saat malam datang. “katanya”
entah benara atau tidak setidaknya itu telah membuat mental kita lemah, mental yang selalu kalah sebelum melangkah,yang selalu ketakutan karena kehawatiran.
kenapa dulu ketika kita kecil saat katanya kalong wewe sedang mencari kita tidak kita datangi saja?????????????setidaknya kalaupun benar kita disusuinya kenapa tidak kitaa gigit saja putingnya setidaknya dengan begitu kalong wewe akan takut keluar di waktu maghrib karena takut puting yang satunya akan digigit lagi!!!!!!!!!!!!!!!!!mungkin dengan begitu kita bisa kemana saja dan kapan saja.
tapi sayang sekarang kita tidak kecil lagi
seandainya ada kalong wewe yang mau mendatangi orang dewasa,,,,,tentunya kali ini tidak akan kita takut menemuinya bila perlu kita perkosa saja biar kapok menakuti kita.

M2M



Mengharap Sikap Tegas Dan Cerdas Pemerintah
Desember 31, 2008, 6:34 pm
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

Oleh: M. MZ L*

Sejarah telah mencatat peranan negara yang sangat nyata dalam melayani struktur ideologi dominan. Dan kini, peranan tersebut kembali ditunjukkan kepada kita melalui proyek privatisasi kampus ( kapitalisasi) yang dikemas dengan istilah BHP. Dalam kasus ini jelas negara, melalui instrumentariumnya yaitu Parlemen ( DPR ) secara gradual melegitimasi perampasan hak secara legal dari pihak asing.

UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang diakui didasari pada pemikiran perlunya otonomi pada perguruan tinggi adalah fakta ketidakmampuan pemerintah atau lebih tepatnya cuci tangan pemerintah terhadap dunia pendidikan dan upaya melepaskan tanggung jawabnya (pemerintah) untuk menyisihkan 20% dari APBN bagi dunia pendidikan sesuai amanat konstitusi. Dan diakui sendiri oleh Satrio Soemantri Brodjonegoro (Dirjen Depdiknas), sebagai kelanjutan dari dibentuknya Badan Hukum Milik Negara (BHMN).

Konsekuensi dari itu semua — secara kasar — adalah menyamakan persepsi kita dalam memandang ”pendidikan” dan ”pasar”. Pendidikan dibiarkan berjalan dengan intervensi pasar lewat peran pihak swasta yang semakin dominan peranannya dalam menentukan arah kebijakan kampus. Sungguh ironis. Ditengah gencarnya banyak kalangan yang mendesak pemerintah agar mau menasionalisasi beberapa BUMN yang sudah terlanjur dipindahtangankan ke pihak swasta, pemerintah justru menambah deretan panjang privtisasi aset bangsa ke pihak asing — baik itu lokal maupun asing. Pendidikan pun dikomersilisasikan.

Perumusan dan pengesahan UU BHP ini tidak lepas dari intervesi dunia barat (Amerika) melalui jeratan utang IMF. IMF mendesak negara berkembang untuk segera melepaskan atau memprivatisasi pengeloaan SDA serta pelayan publik seperti kesehatan, pendidikan dll. Pakar pendidikan, H.A.R. Tilaar (12/4/2008) menuding terbentuknya UU ini tak lebih sebagai bagian representasi neo liberalisme dalam dunia pendidikan. Bank dunia dan International Monetary Fund dituding berada di balik rencana ini.

Dalam konteks dunia pendidikan, ini bermula dari pertemuan konsultatif antara pihak Bank Dunia dan rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN)—pada 1999. Dengan iming-imingan dana dari Bank Dunia, masing-masing PTN kemudian mengajukan proposal dan berujung pada disahkannya beberapa kampus di tanah air berstatus BHMN, yang kemudin menjadi cikal bakal dari BHP.

Sejatinya pendidikan adalah hak mutlak bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali. Namun dengan semakin kaburnya otoritas pemerintah sebagai penyokong arah dunia pendidikan di negeri ini, maka keinginan kita untuk mencapai itu semua — akses pendidikan yang menyeluruh — semakin mustahil dicapai.

Pada akhirnya, tidak menutup kemungkinan dunia pendidikan di negeri ini menjadi sesuatu yang utopis dan tidak mampu dijangkau seluruh lapisan elemen masyarakat, oleh karena beralihnya kewenangan pemerintah ke pihak swasta (asing?) dalam kaitannya dengan lembaga pendidikan. Tidak lepas dari itu, apabila swasta —dalam hal ini asing (barat) — semakin menemukan tempatnya di dunia pendidikan, menjadi hal yang wajar jika pada gilirannya sekolah-sekolah atau universitas-universitas semakin disetir arah kemudinya.

Bagaimanapun dilematisnya posisi pemerintah dalam kasus ini — mengeksekusi apa yang sudah disepakati bersama sebagai paket “pinjaman” yang diberikan (dipaksakan) pihak asing atau memberikan kesejahtraan (berbagai akses) kepada seluruh elemen warganya, sudah seharusnya para pengambil kebijakan sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah mampu bersikap cerdas, tegas dan erani dalam mungupayakan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

*) Penulis adalah “Sedulur” (anggota) IMT Ciputat, Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) UIN Jakarta

Ttd. Aku



Mengharap Sikap Tegas Dan Cerdas Pemerintah
Desember 31, 2008, 6:28 pm
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

Oleh: M. MZ L*

Sejarah telah mencatat peranan negara yang sangat nyata dalam melayani struktur ideologi dominan. Dan kini, peranan tersebut kembali ditunjukkan kepada kita melalui proyek privatisasi kampus ( kapitalisasi) yang dikemas dengan istilah BHP. Dalam kasus ini jelas negara, melalui instrumentariumnya yaitu Parlemen ( DPR ) secara gradual melegitimasi perampasan hak secara legal dari pihak asing.
UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang diakui didasari pada pemikiran perlunya otonomi pada perguruan tinggi adalah fakta ketidakmampuan pemerintah atau lebih tepatnya cuci tangan pemerintah terhadap dunia pendidikan dan upaya melepaskan tanggung jawabnya (pemerintah) untuk menyisihkan 20% dari APBN bagi dunia pendidikan sesuai amanat konstitusi. Dan diakui sendiri oleh Satrio Soemantri Brodjonegoro (Dirjen Depdiknas), sebagai kelanjutan dari dibentuknya Badan Hukum Milik Negara (BHMN).
Konsekuensi dari itu semua — secara kasar — adalah menyamakan persepsi kita dalam memandang ”pendidikan” dan ”pasar”. Pendidikan dibiarkan berjalan dengan intervensi pasar lewat peran pihak swasta yang semakin dominan peranannya dalam menentukan arah kebijakan kampus. Sungguh ironis. Ditengah gencarnya banyak kalangan yang mendesak pemerintah agar mau menasionalisasi beberapa BUMN yang sudah terlanjur dipindahtangankan ke pihak swasta, pemerintah justru menambah deretan panjang privtisasi aset bangsa ke pihak asing — baik itu lokal maupun asing. Pendidikan pun dikomersilisasikan.
Perumusan dan pengesahan UU BHP ini tidak lepas dari intervesi dunia barat (Amerika) melalui jeratan utang IMF. IMF mendesak negara berkembang untuk segera melepaskan atau memprivatisasi pengeloaan SDA serta pelayan publik seperti kesehatan, pendidikan dll. Pakar pendidikan, H.A.R. Tilaar (12/4/2008) menuding terbentuknya UU ini tak lebih sebagai bagian representasi neo liberalisme dalam dunia pendidikan. Bank dunia dan International Monetary Fund dituding berada di balik rencana ini.
Dalam konteks dunia pendidikan, ini bermula dari pertemuan konsultatif antara pihak Bank Dunia dan rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN)—pada 1999. Dengan iming-imingan dana dari Bank Dunia, masing-masing PTN kemudian mengajukan proposal dan berujung pada disahkannya beberapa kampus di tanah air berstatus BHMN, yang kemudin menjadi cikal bakal dari BHP.
Sejatinya pendidikan adalah hak mutlak bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali. Namun dengan semakin kaburnya otoritas pemerintah sebagai penyokong arah dunia pendidikan di negeri ini, maka keinginan kita untuk mencapai itu semua — akses pendidikan yang menyeluruh — semakin mustahil dicapai.
Pada akhirnya, tidak menutup kemungkinan dunia pendidikan di negeri ini menjadi sesuatu yang utopis dan tidak mampu dijangkau seluruh lapisan elemen masyarakat, oleh karena beralihnya kewenangan pemerintah ke pihak swasta (asing?) dalam kaitannya dengan lembaga pendidikan. Tidak lepas dari itu, apabila swasta —dalam hal ini asing (barat) — semakin menemukan tempatnya di dunia pendidikan, menjadi hal yang wajar jika pada gilirannya sekolah-sekolah atau universitas-universitas semakin disetir arah kemudinya.
Bagaimanapun dilematisnya posisi pemerintah dalam kasus ini — mengeksekusi apa yang sudah disepakati bersama sebagai paket “pinjaman” yang diberikan (dipaksakan) pihak asing atau memberikan kesejahtraan (berbagai akses) kepada seluruh elemen warganya, sudah seharusnya para pengambil kebijakan sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah mampu bersikap cerdas, tegas dan erani dalam mungupayakan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

*) Penulis adalah “Sedulur” (anggota) IMT Ciputat Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) UIN Jakarta



who am i
Desember 31, 2008, 6:15 pm
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

entah apa dan bagaimana aku
mencoba berlari tapi itu bukan arahku
entah apa dan bagaimana aku
mencoba meyakini tapi bukan keyakinanku



Sebelum Nisan Tertancap
Desember 31, 2008, 6:13 pm
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

sebelum nisanmu tertancap,
sudah kau perjuangkankah harap?
menjadi pribadi yang tak lemah semangat,
ketika hidup dan nyawa lambatlaun didekati karat?

sebelum nisanmu tertancap,
adakah hati yang selalu siap,
menjadikan impianmu bukan sekedar gembargembor,
tapi terus bersemayam di dada walau kau tak tersohor?

sebelum nisanmu tertancap,
sudah kauampunikah mereka yang silap,
yang kerap membuat dirimu jadi tak berdaya,
akibat dusta, maki, fitnah dan cela yang menusuk jiwa?

sebelum nisanmu tertancap,
pernahkah kemulianNya kautangkap?
kausimpankah di hatimu janjiNya dan perintahNya?
hingga kelak kau dapat yakin kembali dalam pelukanNya?

Ttd. Aku



Sebelum Nisan Tertancap
Desember 31, 2008, 6:12 pm
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

sebelum nisanmu tertancap,
sudah kau perjuangkankah harap?
menjadi pribadi yang tak lemah semangat,
ketika hidup dan nyawa lambatlaun didekati karat?

sebelum nisanmu tertancap,
adakah hati yang selalu siap,
menjadikan impianmu bukan sekedar gembargembor,
tapi terus bersemayam di dada walau kau tak tersohor?

sebelum nisanmu tertancap,
sudah kauampunikah mereka yang silap,
yang kerap membuat dirimu jadi tak berdaya,
akibat dusta, maki, fitnah dan cela yang menusuk jiwa?

sebelum nisanmu tertancap,
pernahkah kemulianNya kautangkap?
kausimpankah di hatimu janjiNya dan perintahNya?
hingga kelak kau dapat yakin kembali dalam pelukanNya?

Ttd. Aku



ehm… ehm… ehm…
Desember 31, 2008, 6:10 pm
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

Akh… dengan nekat, harus kita akui, semakin sepi saja Blog kita ini. kenapa kita tidak berpikir untuk “berkreasi”? sekedar mengaktualisasikan diri.

Bukankah kita semua pada dasarnya “kepengen” mengukir “sejarah”. ya, sejarah. setidaknya, ada sesuatu dalam diri kita yang lama semakin lama menggelembung, menuntut dan memberontak pada diri kita: meluap. Bagaikan lahar gunung merapi yang enggan dibendung oleh siapapun – karena memang sukar untuk membendungnya.

Ayolah, kawan, aku yakin, jauh di kedalaman hati kalian, benar-benar enggan untuk di sebut “manusia yang tidak menarik”.

Ttd. Aku



Mayat Politik
Desember 31, 2008, 10:13 am
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

Dasar mayat politik……..

Tuli akan kecaman kutukan dunia

Tuli akan jerit tangis anak manusia

Buta akan penderitaan dan kesedihan mereka

Dasar fakir miskin………

Melarat peri kemanusiaan, keadilan dan kasih sayang

Dasar kriminil ulung……….

Kejam, sadia, bengis, brutal, iblis………

Tragedi kemanusiaan terulang

Karena arogansi dan kesemena-menaan

Ledakan massive menggemparkan

Ratusan jiwa tanpa dosa melayang

Kebahagiaan hilang, kesejahteraan kandas, ketentraman terpendam,

Perdamaian kabur, semua mimpi terkubur

Hanya miris tersisa pada puing-puing yang tertinggal..            atau………

Mungkin besok tiada lagi yang tertinggal

Sungguh telah mati hati nuranimu ISRAEL…

Kau langgar perjanjian

Kau bangkitkan emosi Hamas

Hingga rudal tak terkekang dalam sarang

Kau jadikan dalih untuk menyerang

Sungguh licik kau IBLIS boneka Amerika

“….Sesungguhnya kamu (Bani Israel) akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali*. dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar……….” (QS. Al-Israa’ : 4)

” Kemudian kamu (Bani Israel) berpaling setelah (adanya perjanjian) itu……” (QS. Al-Baqarah :64)

” Kemudian kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudara sebangsa) dan mengusir segolongan dari pada kamu (dalam kasus ini ‘Palestina’) dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka (dalam kasus ini ‘Amerika’) dengan membuat dosa dan permusuhan……” (QS.Al-Baqarah :85)

 

Dan Kau Bush !!!

Belum puaskah kau dengan pembantaian dahulu…

Afganistan………     dengan fitnahmu

bahwa taliban menyembunyikan dan melindungi Usamah Bin Ladin…

Irak………………         dengan tuduhanmu

bahwa saddam membuat senjata pemusnah masal…

mana Bush…??? mana……..???

Fitnahmu tak lebih dari gonggongan anjing

Mengadu domba kafilah untuk kau rampas kehidupan dan kekayaannya

Tanpa malu, tanpa sesal dan tanpa permintaan maaf

Dibawah sorotan masyarakat internasional

Kau bagikan kue ekonominya

Bak serigala membagi-bagi daging domba hasil buruannya….

“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebahagian besar orang-orang alim yahudi dan rahib-rahib nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil……” (QS.At-Taubah : 34)

Gonggonganmu tentang demokrasi, perdamaian cinta dan keadilan…

sebagai topeng penbungkus kebusukan…

Atas nama cinta dan keadilankah kau menggebuk Afganistan

Tanpa mengindahkan nilai kemanusiaan…???

Atas nama cinta dan keadilankah kau menghajar Irak

Tanpa ampun hingga berdarah-darah…???

Dan… atas nama cinta dan keadilan pulakah kau hadiahkan penderitaan Palestina untuk kepentingan Israel…….???

Inikah kado akhir di masa transisimu dengan Obama…???

” Perdamaian adalah aturan dan perang hanya kekecualian. dan untuk mencapai perdamaian orang harus berdamai dengan dirinya” Saiyid Quthb, tokoh Ikhwanul Muslimin mengungkapkan…

itu pula mungkin yang tidak ada pada Bush, manusia bertanduk……….

                                      ~~~Bush’ Enemy/Felixy~~~



Embun Pagi
Desember 26, 2008, 11:22 am
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

Adalah Raja Zhao yang memerintah sebuah kerajaan di abad ketiga,
mengirim putranya pangeran Chao Chan yang telah beranjak dewasa ke
sebuah kuil dimana seorang guru besar Pan Ku berada. Chao Chan akan
dididik menjadi seorang pemimpin agar kelak siap menggantikan
ayahnya sebagai raja.

Sehari setelah tiba di kuil, Chao Chan merasa aneh karena Pan Ku
justru mengajak Chao Chan masuk kedalam hutan lalu meninggalkannya
seorang diri di sebuah rumah yang telah disediakan baginya ditengah
hutan itu. “Tinggallah disini dan belajarlah pada alam, satu bulan
lagi aku akan datang menjemputmu” demikian kata Pan Ku.

Satu bulan kemudian Pan Ku datang menjenguk sang pangeran di dalam
hutan dan bertanya: “Katakanlah, selama sebulan di hutan ini suara
apa saja yang sudah kau dengar?”
“Guru,” jawab pangeran, “Saya telah mendengar suara kokok ayam
hutan, jangkrik mengerik, lebah mendengung, burung berkicau,
serigala melolong….” dan masih banyak suara-suara lainnya yang
disebutkan oleh Chao Chan.

Usai pangeran Chao Chan menjelaskan pengalamannya, guru Pan Ku
memerintahkannya untuk tinggal selama tiga hari lagi untuk
memperhatikan suara apa lagi yang bisa didengar selain yang telah
disebutkannya. Untuk kesekiankalinya Chao Chan tidak habis mengerti
dengan perintah sang guru, bukankah ia telah menyebutkan banyak
suara yang didengarkannya?
Chao Chan termenung setiap hari namun tetap berpikir keras ingin
menemukan suara yang dimaksud oleh Pan Ku, tetapi tetap saja tidak
menemukan suara lain dari yang selama ini sudah didengarnya.

Pada hari ketiga menjelang matahari terbit, Chao Chan bangun dari
tidurnya kemudian duduk bersila di rerumputan dan mulailah
bermeditasi. Dalam kesunyian itulah sayup-sayup Chao Chan mendengar
suara yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya.
Semakin lama suara itu semakin jelas, dan saat itulah Chao Chan
mengalami pencerahan. “Pasti inilah suara-suara yang dimaksud guru.”
teriaknya dalam hati.
Akhirnya tanpa menunggu Pan Ku datang mengunjunginya, sang pangeran
bergegas kembali ke kuil untuk melaporkan temuannya.

“Guru”, ujarnya “Ketika saya membuka telinga dan hati saya lebar-
lebar, saya dapat mendengar hal-hal yang tak terdengar seperti suara
bunga merekah, suara matahari yang memanaskan bumi dan suara rumput
minum embun pagi.”
Pan Ku tersenyum lega seraya manggut-manggut mengiyakan, lalu
katanya: “Mampu mendengarkan suara yang tak terdengar adalah
pelajaran wajib yang paling penting bagi siapapun yang ingin menjadi
pemimpin yang baik.”

“Karena, baru setelah seseorang mampu mendengar suara hati
pengikutnya, mendengar perasaan yang tidak ter-ekspresikan,
kesakitan yang tak terungkapkan, keluhan yang tidak diucapkan, maka
barulah seorang pemimpin akan paham betul apa yang salah dan niscaya
akan mampu memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya dari para
pengikutnya” .

Ttd. Fitri



Desember 26, 2008, 11:17 am
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

Ada cinta di udara pagi ini menyapaku dengan senyum hangatnya

Pada titik embun yang menjuntai malas di ujung rerumputan

Pada daun-daun kenanga yang menguning, menanti

Cinta menyambutku tanpa syarat
Sesepan, 25 Desember 2008

Ttd. …. (?)



Desember 26, 2008, 11:16 am
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

Bila Engkau Pergi

Bila engkau tlah temukan dua sayap
engkau pasti pergi seiring mentari
yang ngajak arungi langit.
Engkau pun melebur dalam angan tak terbatas
lalu berumah di ketinggian mimpi
lepas dari perangkap bumi
laluwaktu kan buatmu rindukan kembali
pada manisnya.

Kiranya tetes hujan membuka kenangan
engkau yang menghilang menjadi pelangi
berwarna-warni taburkan senyum,
tergaris di langit berikan sedikit damai
namun kau mesti kabur bila mentari muncul

O sedih itu masih menyisa
membanjiri seluruh ruang sepiku
mengendap di lenggang waktu, mengental pekat.
Sudah tak ada lagi secangkir kopi dan ceritamu
di meja buatku di malam ini, di waktu hujan.

Ibuku yang Kesepian

Ibuku yang kesepian di hari sore
merintih pilu saat pergiku
bagai angin hantarkan tetes air ke jendela rumah
Dia tunggui malam di antara terang bintang
berharap ada kabar memecah sepi hati

Sang bulan telah menelan aku
lalu deru angin enggan memberi kabar
aku terlampau jauh meninggalkannya
tapi kau masih menjaga harapan

Ibu yang kesepian di hari pagi
Lihatlah kupulang bawa airmata
dari pengembaraan teramat lelah
lalu kusiram pada jiwamu yang layu
oleh waktu. oh kiranya engkau bangun
tapi kau sudah terlalu tua untuk menungguku

Ttd. … (?)



bout PPh n Pbb
Desember 26, 2008, 6:16 am
Diarsipkan di bawah: Materi Ilmu Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

“kalo karyawan perusahaan swasta,pegawai tetap,tinggal di jakarta ,gaji umr jakarta kena pajaknya berapa,terus sistemnya apa kita yang bayar sendiri,pa tu udah masuk kewenangan perusahaan ,dalam artian perusahaan yang ngurus?
terus masalah tanah,untuk di daerah tegal luas kira2 400 meter, untuk daerahnya slawi(kab.tegal)kalo dikira2 harga permeter 200 rb,per tahunnya kena berapa,kalo misalnya telat bayar,dendanya berapa?”
Jadi,nutuk PPh itu ada istilah dipotong dan dipungut.Untuk pegawai negeri maupun swasta,PPh sudah dipotong oleh bendaharawan kantor atau perusahaan.Tp nanti org pribadi (ortumu) berhak mendapatkan Bukti Pemotongan sbg tanda pajaknya dah dipotong dah disetorkan k Kas Negara.
Untuk besarnya nominal pajak yg dibayarkan tergantung brp nominal Gaji Bruto yg ditrima Orang Pribadi(ortumu).Jadi misalnya saja Pak X,gajinya 800.000 sebulan(9.600.000/tahun),maka pak X gak dipotong PPh,karena gajinya msih dibawah Penghasilan Tidak Kena Pajak(PTKP utk org pribadi tdk kawin 13.200.000/tahun,kalo kawin ditambah 1.200.000,kalo punya anak,ditambah lagi 1.200.000/anak dgn batas max 3 anak)
Nah,misalnya aj Pak Z status kawin dgn 1 anak,maka PTKP=15.600.000,trnyata penghasilanya 16.000.000 setahun(1.333.333/bulan),maka,16jt itu dikurangai dg PTKP(15.600.000).hasilnya trz dihtung pajaknya dg dikalikan tarif pajak Pasal 17 UUPPh(bagian ini terlalu ribet utk dijelaskan,rasanya tdk mungkin dpt dipahami hnya dgn tulisan spt ini,panjang penjelasanya,maaf yah..mgkn q bs hitungkn lgsg bpr pajaknya dgn disebutkan nominal gaji,premi2 asuransi yg dibayarkan oleh pmberi kerja,dan iuran pensiun yg dibyar sndr oleh orang pribadi.Karena pada prakteknya menghitung pajak tdk sesederhana yg sya jelaskan di atas.itu hnya scara garis besarnya saja)
Nah,skg PBB,ini sebenrnya lbh sederhana,karena tarif PBB tetap brpapun luasnya tanah dan keadan bangunan,yaitu 0,5% x (NJOP-NJOPTKP).Hnya saja disini yg ribet itu menentukan NJOPnya krn dlm ilmu penilaian trdpat kelas2 tanah dan bangunan.PBB bkn cm wat tanah loh…tp bangunannya jg..dlm kasusmu anggap aja disitu cm ada tanah,tanpa bangunan.maka penghitungana=200rbX400=80.000.000X20%=16000.000(NJOP)
16.000.000-10.000.000(NJOPTKP)=6000.000
0,5%X 6.000.000=30.000(PBB yg dibayarkan)
Tapi harga 200rb/meter itu syp yg nentuin?dlm penghitungan PBB yg nentuin harga tanah adalah orang KPP(KANTOR PELAYANAN PAJAK) bukan pemilik tanah.Jd dlm kasus di atas q asumsikan harga dah ditentuin KPP.
Mosok PBB msh bs tlat sih?kn dah dikasi klonggaran wktu mpe 6bulan…keterlaluan klo masih tlat jg…tp klo tlatz berarti denda 2%/bulan dr pajak yg sharusnya dibayar.
Semoga Bermanfaat.