Ada apa dengan Nike?
Belakangan, Perusahaan NIKE menuliskan AIR dengan pelesetan nama ALLAH di sepatu…
Menurut Kalian, Mereka (NIKE) itu Sengaja atau Tidak?
Melecehkan kaum Muslim Tidak?
apa mau dimaafkan saja? Kasihan juga kan? daripada nantinya malah bikin ribut, hayuh…?! (lagi…)
Diarsipkan di bawah: 1
Jum’at Lengang Hp-ne Nyong Ilang
(Diilhami dari kisah nyata seorang mantan ketua IMT_C)
“Halo Meth, kamu dimana sekarang? Punya kartu simpati ndak?” tanya Gus Akib sembari menggenggam HP milik Rizki dengan sangat hati-hati.
“Iya, aku ndue. Ana apa Mas Akib? Tapi pulsane kari sacuil kas dijaluki Aji,” ucap Metha agak lemas sambil membuka mata yang dari tadi merem menikmati istirahat siang di kosan tercinta. Terik matahari yang menyengat kulit, membuat mahasiswi saintek ini enggan beranjak dari tidurnya dan tidak begitu memperdulikan telfon dari Gus Akib, mantan ketua IMT yang sangat rela mengorbankan jiwa, raga, bahkan jatah makannya demi kemakmuran teman-teman Tegal lainnya di seantero basecamp. Kala itu Gus Akib, pria tampan nan gagah ini sedang panik lantaran kehilangan HP yang baru saja dilelangnya dari Mba Indah, nona warteg asal Krandon, Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah, Ibu kota Semarang.
“Meth, metu owh. Kie Akib wis ning njaba.!!!” teriak akib yang berusaha mempertahankan kekokohan sarungnya yang hampir melorot setelah dipakai Sholat Jumat tadi. Akib terus melongok-longok jendela kosan Metha, berharap Metha segera keluar dan mau meminjamkan kartu simpati miliknya.
“Ada apa mas akib? Nyariin Mba Indah, ya. Dia baru saja pergi katanya mau nganterin makanan buat Mas Endut,” ucap metha sambil nyengir dan melirik ke arah Gus Akib yang juga sama-sama endut tapi tetap atletis. Akib terdiam sejenak memandangi Metha dengan mata sok serem padahal aslinya nggak serem.
“Maksudku, Mas Amin.” Metha kembali nyengir.
“Yah mudah-mudahan saja indah berlama-lama di kosan amin, biar aku tidak ditagih dulu cicilan HP yang belum lunas,” ujar Gus akib menenagkan diri sambil menyibak rambutnya ke depan meyakinkan bahwa dirinya tak kalah ganteng dengna Afgansyah Reza.
“Mba Indah emang betah kalau di kosan Mas Amin. Hehehe…! Ngomong-ngomong kenapa tadi tanyain kartu simpati?” tanya Metha sembari menonaktifkan HP dan memberikan kartu simpatinya.
“HP ku ilang, Meth!” Gus akib tertunduk lesu.
“Terus kartu simpatine pan nggo apa?”
“Aku pan coba nelfon nomerku, mbokan mesih aktif?!”
Metha dan Gus Akib berjalan menuju basecamp. Tumpukan sampah, koran yang berserakan, makanan yang hanya tinggal sisa, gelas bekas kopi yang belum dicuci, selalu saja menghiasi tempat tongkrongan anak-anak Tegal di Ciputat.
“Pimen Gus? Wis ketemu HP-ne?” tanya Latif sambil cengar cengir.
Sementara itu di luar basecamp, Bojes nampak sedang berseteru dengan Ayu, gadis ekonomi yang entah dengan jampi-jampi apa bojes bsia menaklukannya.
“Dari tadi aku telfon kamu. Kenapa hp kamu nggak aktif?” Ayu ngotot dengan mata yang melotot.
“Aku juga nggak tau sayang, kenapa HP ku nggak aktif. Tadi sebelum Sholat Jumat HP ku masih ada di dalem, lagi dicas malah!” Bojes mencoba menjelaskan dan menenangkan kekasih tercintanya itu.
“Jes, esia ne ente ilang juga, yah?” teriak Gus Akib dari dalam basecamp.
Sementara itu Latif yang sedang duduk santai di kursi pojok, terus saja cengar-cengair sambil sms-an.
“Gus, Gus…! Mugane dong tuku HP ya aja ngutang ndisit. Dong kaya kue ta kucing be ya bisa owh? Hehehe.” Latif menimpali sambil terus memainkan jemarinya di keyword HP.
“Koen ta wong HP ne ora ilang sih, dadine bisa ngomong kaya kue. Toli wis leh aja cengar-cengir bae. Lagi sms-an karo sapa sih? Leli ohya?” Gus Akib gantian membalas Latif.
“Dih, kaya kue yah? Atane leli sing digawa-gawa,” ujar Latif tak mau kalah.
Di tengah-tengah cek-cok bersaudara antara Latif dan Gus Akib, Riski mengakhiri lamunannya, yang dari tadi berangan-angan memiliki pacar seorang mahasiswi kedokteran. Namun apa daya Riski bukan selera mahasiswi kedokteran asal Jati Negara itu. Riski pun pasrah bahkan teramat pasrah dengan nasib suramnya itu.
“Wis meneng kabeh, aja pada ribut. Yuh digoleti HP ne bareng-bareng!” ajak Riski antusias dengan semangatnya sebagai ketua IMT baru angkatan 2008-2009.
“Gus pimen kyeh, esia-ne nyong ilang. Si Ayu mencak-mencak atane lunga. Dewek senasib, yah?” ucap Bojes meyakinkan Gus Akib.
“Senasib karo ente, Jes? Diiih, moh Yah. Aku karo ente mesih gantengan aku owh?!” Gus Akib tak mau kalah.
“Wis owh Mas Akib. Ditelfon maning nomere anggo simpatine aku,” Metha menawarkan pada Gus Akib.
“His ngko ndisit. Aja buru-buru kudu ana taktike owh!” saran Ikbal
“Taktik apa? Aja kesuen, mbokan hpne nyong wis anjog akhirat pimen?” ungkap Gus Akib panik.
“Bener jare Ikbal, emang kudu ana taktike!” Latif menambahi.
“Dewek ngko nelpone aja anggo bahasa Tegal owh?!” Ikbal kembali menyarankan.
“Yawis anggo bahasa Indoenesia bae, ben rada keren. Toli nggo wedi-wedi malinge!” Riski menambahi.
“Tapi mobkan malinge wong Sunda, pimen? Dewek ra ngerti bahasane owh?” ujar Metha dengan semangat.
Suasana basecamp sejenak lengang, nampak semuanya berfikir mencari cara bagaimana menindaklanjuti maling tersebut.
“Ki, ente mbiyen pernah mondok ning daerah Jawa Barat ohya? Bisa bahasa Sunda owh, Wa?” ucap Ikbal penuh semangat.
“Maling jaman sekarang maunya HP GSM dan CDMA, ana-ana bae?” gerutu Gus Akib.
“Royal yah, Gus?” Bojes menimpali.
“Emang” jawab Gus Akib singkat.
“Ya wis, sapa kie sing pan nelfon ndisit?” tawar Riski.
“Jarene ketua IMT? Esih anyar maning, durung karatan. Daning ngomong karo malilng be ra wani?!” Ikbal menambahi.
Mendengar sindiran itu, Riski nampak manyun. Kacamata yang dipakainya otomatis melorot jika perasaannya sedikit tersinggung.
“Mene, aku bae sing nelfon!” Gus akib merebut HP dari tangan Riski.
Tut…tut..tut…! Gus Akib mendengarkan dengan seksama telfon yang tersambung ke nomer simpati kesayangannya.
Mendadak Gus Akib menutup telfon yang sudah tersambung itu. Muka Gus Akib nampak cerah. Senyuman manis terukir di bibirnya yang tidak seseksi bibir fans beratnya, Afgansyah Reza, pria yang bukan berasal dari pondok Babakan.
Latif yang dari tadi mengamati gerak-gerik Gus Akib, terus menimpali, “His, pimen Gus. daning dipateni HP-ne?” tanya Latif heran sambil meletakkan secangkir kopi di dekat televisi.
“Toli bisane kas nelfon cengar-cengir kaya kue sih, Gus? Malinge suarane merdu?” tanya Ikbal.
“Hihihi.. nomere nyong esih aktif, berarti hp ne nyong durung ilang owh?”
“Durung ilang pimen? Mene nyong bae sing nelfon. Koen ta kesuen, Gus. Kesusu HP ne mabur!!!” Bojes geram meihat tingkah Gus Akib.
Bojes menekan satu persatu nomor yang ada di keyword HP Riski, sehingga nomor yang dituju bisa tersambungkan. Nampak suara seseorang langsung menjawab telfon dari Bojes.
“Halo! Ono opo to, Mas? Nggoleti HP, yah?”
“Assemmm…! Jebule pada bae wong jawane. Mene wis mas, belakna HP ne bocah-bocah. Aja kaya kue owh!” Gertak bojes yang semakin geram.
Gus Akib yang kesal, segera merebut HP yang berada di genggaman Bojes, “Heh sampean karepe apa, sih? Mene belakena. Pada wong jawane ka. Tega temen, sih?”
“Mene owh! Yen HP-ne njenengan-njenengan pengen balik. Kye di pundut bae!” jawab Si Maling dengan santai tanpa merasa berdosa sedikitpun.
“Sampean saiki nang ndi?” tanya Gus Akib kembali.
“Aku ning warteg pereke kampus loro, mene bae owh!” jawab Sang Maling.
Akhirnya Gus Akib dan kawan-kawan beranjak mencari lokasi yang dimaksud oleh Si Maling. Jalanan hari Jumat yang begitu lengang dan panas tidak menyurutkan langkah pasukan-pasukan IMT untuk terus maju melawan kebathilan.
“Gus, mbang endi kyeh wartege?” tanya Riski yang dari tadi masih manyun.
“Mene owh belok, kayonge ta ning kene. Sebelah endi yah? Nyong daning kelalen?” Gus Akib mencoba terus mengingat-ingat.
Jalanan kampus dua sudah mereka telusuri, segala warteg di sekitarnya, sudah mereka datangi. Namun tidak ada ciri-ciri warteg yang disebutkan Si Maling.
“Heh bocah-bocah, nyadar belih sih? Dewek kye dibodoni tok daning malinge?!” ucap Ikbal meyakinkan.
Tut…tut…! HP RISKI berdering nampak ada satu pesan masuk dari nomor 081380855890
“Suwun nggeh mas-mas IMT, HP ne ngge kulo mawon. Ngapuntene yen tak pendet. Soale kulo ngefans nemen kalih Gus Akib. Dadine hp ne mboran sing tak pendet dari pada wonge ra bisa dipendet sih, ya? Heheh…! Ohya esiane ya suwun, bonus ngge kulo. Aku ta lagi ora ning warteg, tapi ning rumah makan padang. yawis!”
“Edaaaannnnnnnnnnnnnnn” teriak Gus Akib.
“Kwakwakwakwak….” teriak teman-teman IMT yang lain.
Kozan, 5 Juni ‘09
1.05
Metha Arum
Diarsipkan di bawah: 1
Sssssssssssssss………………. Sssssssssss…….. Dia mendengarnya, ya, dia dengar itu. Desir angin yang menderu, menerbangkan debu-debu mengotori hati, niat, pikiran, bahkan perasaan ia sejak dulu memang begitu hembusan angin itu: topan, ribut, tornado, puting beliung. Waw… semuanya: Si Kosong yang mengisi, Si Hampa yang menerpa tanpa wujud ciptakan wujud melempar debu-debu, krikil-krikil bebatuan menyumbat aliran semangat dan gairah hingga dia kaku terpaku dan membeku betapa dia ingin teriak, menjerit, memekik…..
Aaaaaaaaaaaaaaa…………………… Hingga langit menjadi hujan reruntuhan, bintang berjatuhan bulan dan mentari berbenturan dia sadar semua akan mendengar dan mentertawakan dia kerdil di pojok tembok, tersapu angin sirnalah sudah.
Dalam hati dia berpikir, “kenapa aku tak bisa seperti mereka? Dan kenapa aku harus berpikir bahwa aku harus seprti mereka? Kenapa aku harus membuka mata sedang yang terlihat hanya mereka? hanya ketika mata terpejamlah aku bisa melihat diriku, tapi aku tak angin terus menutup mata, aku ingin membuka mata dan ku lihat diriku di antara mereka. Mereka itu siapa? Hidup ini apa? Milikku atau milik mereka? Mereka bilang milik bersama, tapi (sementara ini) aku hanya bisa merebahkan kepalaku di atas telapak tangan dengan lengan tegak menyangga, seraya berkata, “aku ingin merampas hidup mereka”. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: 1 | Tag: imt ciputat, mahasiswa tegal, Tradisi Intelektual tegal, uin jakarta
Wilayah Tegal yang berada pada jalur utama Pantai Utara Jawa merupakan kawasan yang berada di jalur emas yang dinamis, sekaligus memiliki kultur wirausaha yang menggembirakan. Apalagi Tegal berada pada persimpangan jalur yang menghubungkan dengan Jakarta, Semarang dan Purwokerto. Kondisi ini menjadikan Tegal sebagai wilayah yang terbuka dan kosmopolitan. Kalaupun ada yang disayangkan, tradisi intelektual termasuk berkesenian, berdiskusi dan menulis masih terbilang rendah di kawasan ini.
Tradisi Baca-Tulis-Diskusi
Tegal memang tidak pernah memosisikan diri sebagai kota intelektual (dan pelajar) seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, Jakarta, Bandung, atau baru-baru ini Malang. Tegal misalnya, tidak memiliki kampus universitas negeri . Kampus-kampus universitas swasta pun terbatas. Untuk mendapatkan buku-buku baru di Tegal relatif sulit. Hanya ada sedikit toko buku , itu pun kebanyakan hanya memajang buku-buku pelajaran dan buku teks. Bazar buku yang diselenggarakan beberapa kali lebih banyak menjual buku-buku dengan proporsi buku agama lebih banyak ketimbang buku-buku bidang keilmuan lain.
Keberadaan kaum muda intelektual yang sebenarnya mengangkat nama Yogyakarta, Solo, Semarang atau Bandung berkibar di kancah nasional. Kaum muda intelektual ini banyak bergiat dalam pergerakan mahasiswa, kelompok studi, maupun komunitas kebudayaan (dan kesenian). Banyak aktivis, pemikir, dan seniman dilahirkan oleh tradisi dan iklim intelektual yang terbangun baik di kota-kota itu. Yogyakarta misalnya, memiliki sejumlah tempat dan komunitas di mana intelektual dilahirkan setiap tahunnya, seperti kawasan Malioboro, Beteng Vredeburg, Gedung Societet, Senisono, hingga Kantin Bonbin Universitas Gadjah Mada (UGM). (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat | Tag: DPT, mahasiswa tegal, pemilu
Sebelum pemilu pun semua tau bahwa Daftar Pemilih Tetap (DPT) masih ‘amburadul’. Banyak daftar pemilih fiktif, pemilih ganda, anak dibawah umur dan warga yang telah meninggal dunia namun terdaftar dalam DPT, juga beberapa anggota POLRI-TNI yang masuk dalam deretan DPT.
Menanggapi kesemrawutan tersebut, berbagai kalangan mengingatkan KPU agar pemilu diundur. namun KPU tetap melenggang optinis memaksakan pelaksanaan pemilu yang sejatinya belum siap, baik logistik maupun DPTnya. DPT yang dipakai dalam pelilihan legislatif 9 april lalu merupakan DPT yang dipakai dalam pilkada kemarin, makanya banyak juga warga yang telah meninggal atau warga yang telah pindah namun terdaftar dalam DPT suatu wilayah. KPU memang telah berusaha melakukan verifikasi dan revisi, namun tampaknya hasil yang didapat tidak maksimal. alhasil, terjadilah berbagai kesemrawutan yang menandakan kementahan demokrasi Indonesia.
Sedikit ber-negative thinking: adanya himbauan dari berbagai kalangan agar pemilu diundur demi keakuratan dan ke-abshahan DPT namun tidak di-indahkan KPU hingga diadakan pelilu dengan DPT yang morat-marit, merupakan usaha yang dilakukan KPU untuk menjaga reputasi KPU (setelah pergantian anggota KPU yang baru). mereka tidak menghendaki adanya penilaian negatif bahwa kualitas kinerja KPU sekarang mengalami kemunduran dibandingkan KPU sebelumnya. NAMUN apapun alasanya (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat | Tag: kampanye parpol, mahasiwa tegal, TAnggul situ gintung
Tidak etis memang, jika dalam keadaan memperihatinkan kita mencari “kambing hitam” dari jebolnya situ gintung. Namun memang inilah kenyataannya, bahwa ada api dibalik kemepulnya asap disitu gintung. ketidak-seriusan pemerintah, ketidak-perdulian pemerintah, atau bahkan kerakusan pemerintah.
Ketida-seriusan pemerintah, dalam pengawasan dan perbaikan terhadap daerah resapan air~yang telah dibangun sejak zaman belanda. Ketidak-perdulian pemerintah, terhadap masyarakat yang tinggal dibawah situ ~yang menampung 1,5 juta meter kubik air~ jelas-jelas terancam jiwa dan harta mereka. Kerakusan pemerintah, yang seharusnya mengetahui dan mengatur tata ruang kota dengan benar dan aman, namun telah memberikan izin pemukiman dibawah situ yang menurut salah satu sumber telah menyapu 319 rumah dengan korban tewas mencapai 100 jiwa, korban luka 190 orang dan korban hilang 139 orang. sungguh ironis, mereka tega mensejahterakan kantongnya sementara rakyat kehilangan jiwa, sanak keluarga juga harta benda.
Harapan yang masih tumbuh dihati warga adalah mendapat bantuan semua pihak ~terutama pemerintah~ baik berupa spirit yang diharapkan bisa mengobati trauma dan depresi ~terlebih lagi bagi anak-anak~ yang telah kehilangan anggota keluarganya, maupun berupa materi untuk menumbuhkan kembali haraapan hidup mereka.
Disatu sisi, musibah jebolnya situ gintung ini bisa dijadikan ajang pentas (lagi…)
Diarsipkan di bawah: 1 | Tag: Ikatan Mahasiswa Tegal, imt ciputat, uin jakarta
Perjumpaanku denganmu
tak ubahnya sebuah pertemuan yang memabukkan
Kau adalah anugerah meski
tak jarang kau melahirkan rasa gelisah
Tuhan yang Maha Sombong
mengejawantahkan Dirinya pada sosokmu
aku tak ubahnya Musa
yang luluh melihat wajah Tuhannya
hasrat yang begitu menggebu
tak sejalan dengan kemampuanku
kebanyakan orang bertindak
atas dasar kekhawatiran
tapi aku belum juga melangkah
meski begitu dalam kekhawatiran itu
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat | Tag: balapulang wetan. ponaryo, muhamadmuiz, pahlawan, superman
Oleh Muhamad Muiz L
Negeri Balapulang dikenal sebagai negeri yang pembangunan industrialisasinya belum segencar yang dilakukan di negeri-negeri yang lain. Tanah-tanah persawahan masih terhampar di sana-sini. Suasana pedesaan yang begitu asri di tambah mayoritas penduduknya yang bermatapencaharian sebagai petani membuat negeri ini dikenal sebagai negeri agraris dimana penduduknya bisa memenuhi seluruh kebutuhan pangan hanya dengan produksi dalam negeri pada setiap tahunnya. Tidak pernah sekalipun dalam sejarahnya, negeri ini mengkspor bahan makanan dari negeri-negeri tetangga.
Kehidupan penduduknya dalam berkeluarga nyaris tidak pernah mendapat kesulitan yang berarti. Rupanya, keharmonisan di lingkungan keluarga menjadi kunci keberhasilan model pertanian keluarga dari dulu hingga kini. Tanah pertanian digarap dengan sistem tradisional di mana pengelolaan tahap-tahap bertani dari mulai pengadaan benih sampai pendistribusiannya disandarkan pada SDM-SDM dari keluarga sendiri. Setiap anggota keluarga diberi tugas sesuai kemampuan masing-masing. Dan kaum perempuan memegang peranan yang sangat vital dalam menjaga keberlangsungan produksi pertanian yang bercorak pada model keluarga tersebut.
Dari mulai ikut memilih dan menabur benih, proses penyiangan, hingga penyediaan konsumsi bagi petani lainnya perempuan selalu memegang peranannya dengan cukup baik. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kaum perempuan merupakan modal utama dalam menjaga regenerasi keturunan dan juga mendidik para anak-anak yang disiapkan untuk menjadi petani pada periode selanjutnya.
Namun suatu ketika tiba-tiba seluruh penduduk di negeri Balapulang dibuat pusing dengan semakin berkurangnya produktivitas petani perempuan. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat | Tag: cerita, cinlok, kisah nyata, tragedi situ gintung
(Berdasarkan pengalaman nyata)
Dentang waktu mengantarkanku pada liku jalan tepian kota Ciputat, menghuyung-menggoyangkan setiap lekuk lorong-lorong trotoar, manyusutkan gerak air danau Situ Gintung. Membersihkan kampus-kampus, camp-camp kaum marginal globalisasi. Mayat bergeletak mengharap uluran tangan dari tangan-tangan yang sedang menari memainkan jari jemarinya, menertawakan air darah yang sedang marah. Mengharap injakan kaki kemanusiaan. Air dan darah, yang kini tak bisa ku bedakan lagi menerjang percikan mani-mani yang sedang tercecer memekik. Tangis, tawa, duka,cita,hingga tak lagi berbeda. Tak guna lagi simpatimu wahai penguasa, karenamu kini aku telah tiada.
Denting waktu menyapa lorong-lorong trotoar kota , mengajakku berbincang di kamar kosan kumuh berhias smpah-sampah situ gintung. Tapi aku tetap melangkahkan kaki pada terjalnya puing-puing bencana. Arwah sahabat yang coba menyapa tak aku hiraukan. Aku hanya duduk terdiam di sudut mushola menatap nanar wajah-wajah penuh duka dan penuh tawa. Ku rapatkan kakiku rapat-rapat disudut mushola menghitung wajah-wajah riang yang tak pernah aku kenal, mereka bergabtian menyapaku dengan sinis. Aku rapatkan lagi kedua kaki hingga dengkulku rapat dengan dagu. Ku pejamkan mataku tapi wajah mereka tatap terlihat, malah semakin jelas dan semakin jelaas. Huyuran hujan diluar mushola tak membasahi semangat team sar dan para relawan menenmukan para korban bencana. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat | Tag: budaya lokal. kesenjangan, pesantren

Muhamad Muiz L
Suatu keadaan yang bukan saja khayalan, jika pesantren dapat bersenggama dengan budaya lokal. Biar bagaimanapun, pesantren ada karena masyarakat sekitar yang pastinya punya budaya yang telah tumbuh-kembang bersama mereka. Adanya pesantren bukanlah untuk memporakporandakan budaya yang telah melekat pada diri mereka, akantetapi untuk menjaga dan menjaga budaya yang telah ada.
Sangat ironis sekali bila antitesalah yang terjadi. Pesantren yang lahir dari rahim budaya lokal seharusnya bisa mengawininya, malah menjaga jarak, mencurigainya bahkan menolaknya dengan keras. Entah karena alasan apa, fakta membuktikan tidak sedikit pesantren yang melarang keras santrinya untuk melihat pentas budaya apalagi memelajarinya. Memang acara-acara tertentu dalam tradisi pesantren, acapkali d\iselingi hiburan-hiburan yang merupakan kreasi dari santri, akan tetapi kreasi yang ditampilkan hanyalah kabaret yang berbeda jauh dengan model drama khas masyarakat lokal. Terkadang juga dipentaskan seni musik, akan tetapi tidak beda jauh dengan kreasi drama yang disebut di atas. Seni musik yang dipentaskan tidaklah mewakili aspirasi masyarakat sekitar. Musik yang biasanya dipentaskan yaitu jenis musik gambus, japin dan sejenianya. Pokoknya yang berbau arab. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: General Thinking Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat
Setiap manusia pasti memiliki rahasia dalam hidupnya. Mereka kadang menyimpan rahasia dikarnakan berbagai alasan diantaranya katakutan, aib, dll. yang menyebabkan mereka merasa lebih baik menyimpannya sendiri.
Menyimpan rahasia amatlah sangat berat sehingga kita kerap kali merasa terbebani, kadang kita butuh seseorang untuk berbagi, bertukar pikiran atau transparasi masalah yang kita hadapi. Transparansi pribadi adalah keterbukaan wajar yang dilandasi keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Tulisan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat

Mereka berkata, “hati-hati. Jangan sembarangan, itu budaya barat yang hanya dijadikan kedok imperialisasi dan kolonialisasi ala gendon, penjajahan gaya sekarang. Bukankah kita semua sepakat bahwa bentuk penjajahan masa kini memang melalui dari berbagai jalan, dan lewat jalur budayalah semua bakal menemukan tempatnya supaya bisa lebih mengakar dan bertahan lama!!!” (lagi…)

“Ada” dan “Tak Ada”
ada yang ada, ada yang tak ada
nyatanya ada, nyatanya tak ada
antara ada, antara tak ada
ada antara, di antara ada dan tak ada
hanya tak terasa, ada di sana
hanya tak terasa, ada di sini
hanya tak terasa, apa yang dirasa
ada dan tak ada, mungkin tak berbeda
antara ada di sini, rasa di sini
ada antara di sana, di mana rasa
antara ada di sini, nalar di sini
ada antara di sana, di mana nalar
ada dan tak ada, nyatanya ada (lagi…)




